Ini bukan Preface, namun inilah anu
Ini menyedihkan, tertinggal dari mereka yang sepantaran
Ini bukan FairyTales, ini yang saya takutkan sedari dulu
Belum lama saya ga sengaja bermimpi, ada teman lama disana
Teman semasa bangku sekolah dasar
Flashback ke jaman SD, ribut dikelas, bagi bagi bekal, nunggu jemputan bareng
Pas bangun saya langsung ambil hape layaknya generasi percaya gosip. Asal klik namanya dan menambahkan '@' langsung ketemu, dan inilah dia ...
3 jam lebih aku menelusuri (not stalking) dan inilah yang dipikiran tiap lagi ngampus, dijalan, di kasir alpamart, antri pom bensin, bahkan sebelom tidur.
Ya.
Dia yang sering bermain dengan saya, gataunya sekarang sudah di negeri mbah Hitler.
Ini yang membuat saya sedih, terlebih saya lebih tua berdasarkan KTP.
Ini yang membuat saya merasa bodoh, disaat dia sudah melanjutkan studi di luar negeri, saya masih terpaku di negeri sendiri dan masih bingung :
Kelak jadi apa saya ?
Apakah saya berada dijurusan yang benar ?
Apakah saya seharusnya ada disini ?
Apakah 20taun saya dilahirkan saya masih hangout dan dia telah straight outta there ?
Dilemanya begini,
Mungkin saja dulu aku tidak pindah kemari mungkin aku bernasib tak jauh beda dengannya.
Mungkin saja kalau saya tau sedari dulu kalau dia seperti itu, saya akan 'malu' jauh jauh hari dan telah lama merubah diri.
Mungkin saja apaan ah bera, idup gini amat.
Cuman anehnya, disini saya menemukan apa arti sahabat (kalimat mainstream)
Saya tau dan merasakan, terjun langsung dengan mereka.
Mungkin saja kalau saya disana yang saya tau hanya kehidupan di ibukota,
*sebenarnya saya sudah menulis banyak namun saya lupa menyambungkan pada internet sehingga inilah yang terjadi ketika saya ingin memasukkan gambar, dan tidak tersambung, hanya ini yang tersisa, baiklah, saya coba tuk ingat ingat lagi*
Mungkin saja kalau saya disana yang saya tau hanya kehidupan di ibukota, dunia malam, masyarakat menengah keatas
Namun disini saya menemukan semuanya, saya tau apa yang terjadi 'dibawah'
Ah tai
Mungkin memang ini sudah nasib, sejauh ini menyedihkan.
Disaat remaja lain up to date setiap ada aplikasi baru, saya merenung mengapa saya masih disini dan dia sudah 'diluar' sana.
Disaat remaja masih percaya akan kebesaran akun 'golongan darah' yang maha tau, saya hanya malu jikalau suatu saat dia 'menemukan' ku dan mengajak bertemu
Aku bahkan sedang melanjutkan studi mempelajari dan memperdalam bahasa yang dia 'jadikan' bahasa kedua nya, atau mungkin ketiga setelah bahasa negara yang sedang ia tinggali atau bahasa negeri nya sendiri.
Nampaknya saya harus pindah kelingkungan baru, tapi lancangkah saya jika mengedepankan passion dan dengan entengnya meminta tuk mengulang dari 'awal' dengan fokus yang berbeda meskipun memakan biaya yang tidak sedikit ?
Entah saya masih bingung kepada siapa aku harus menceritakan semua ini karena aku tak pandai merangkai kata, aku tak biasa ngeblog, aku bahkan tidak konsisten dalam menggunakan kata ganti untuk diriku sendiri antara 'aku' dan saya', bahkan aku menggunakan lebih banyak 'koma' ketimbang 'titik dalam suatu paragraf.
Aku bahkan lancang tidak memperkenalkan diri di blog ku sendiri, langsung begini saja.
Akan kulanjut lain waktu, ini pun entah mengapa aku terbangun dan membuka laptop tuk menceritakan ini. Suatu hari kan kutunjukan semua 'ini' saat aku sudah setara atau paling tidak mendekati 'posisi' nya, entah surprise atau tidak yang jelas aku tidak seharusnya begini di umurku yang segini.
*sebenarnya saya sudah menulis banyak namun saya lupa menyambungkan pada internet sehingga inilah yang terjadi ketika saya ingin memasukkan gambar, dan tidak tersambung, hanya ini yang tersisa, baiklah, saya coba tuk ingat ingat lagi*
Mungkin saja kalau saya disana yang saya tau hanya kehidupan di ibukota, dunia malam, masyarakat menengah keatas
Namun disini saya menemukan semuanya, saya tau apa yang terjadi 'dibawah'
Ah tai
Mungkin memang ini sudah nasib, sejauh ini menyedihkan.
Disaat remaja lain up to date setiap ada aplikasi baru, saya merenung mengapa saya masih disini dan dia sudah 'diluar' sana.
Disaat remaja masih percaya akan kebesaran akun 'golongan darah' yang maha tau, saya hanya malu jikalau suatu saat dia 'menemukan' ku dan mengajak bertemu
Aku bahkan sedang melanjutkan studi mempelajari dan memperdalam bahasa yang dia 'jadikan' bahasa kedua nya, atau mungkin ketiga setelah bahasa negara yang sedang ia tinggali atau bahasa negeri nya sendiri.
Nampaknya saya harus pindah kelingkungan baru, tapi lancangkah saya jika mengedepankan passion dan dengan entengnya meminta tuk mengulang dari 'awal' dengan fokus yang berbeda meskipun memakan biaya yang tidak sedikit ?
Entah saya masih bingung kepada siapa aku harus menceritakan semua ini karena aku tak pandai merangkai kata, aku tak biasa ngeblog, aku bahkan tidak konsisten dalam menggunakan kata ganti untuk diriku sendiri antara 'aku' dan saya', bahkan aku menggunakan lebih banyak 'koma' ketimbang 'titik dalam suatu paragraf.
Aku bahkan lancang tidak memperkenalkan diri di blog ku sendiri, langsung begini saja.
Akan kulanjut lain waktu, ini pun entah mengapa aku terbangun dan membuka laptop tuk menceritakan ini. Suatu hari kan kutunjukan semua 'ini' saat aku sudah setara atau paling tidak mendekati 'posisi' nya, entah surprise atau tidak yang jelas aku tidak seharusnya begini di umurku yang segini.

